Untuk mencapaiNya pasti susah tapi nikmati prosesnya dan hasil akan mengikuti. keep spirit :)
Home » » Media Massa Pembentuk Opini

Media Massa Pembentuk Opini



“MEDIA MASSA SEBAGAI PEMBENTUK OPINI”
“kasus Angelina Sondakh dan Joko widodo”
 (Tri Wahyu susilo, Ari Prasetyo Utomo)
Abstrak

Menurut Dr. Everett Kleinjan dari East West Center Hawai (Cangara, 2006: 1) komunikasi merupakan bagian kekal dari kehidupan manusia seperti halnya nafas, sepanjang manusia ingin hidup maka ia perlu berkomunikasi.
 Semakin majunya Era globalisasi saat ini membuat perkembangan didunia Komunikasi semakin tinggi seperti halnya kemunculan Media Massa. Dengan banyaknya media maka seakan-akan kita di hidangkan dengan berbagai informasi, baik itu yang penting maupun tak penting.
 Menurut Cangara ( 2006:122) media massa adalah alat yang di gunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kapada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperi surat kabar, film, radio, dan televisi.
Dengan adanya perkembangan perusahaan pers yang sangat maju seakan akan media massa berperan membentuk opini public hal tersebut juga di ada dalam teori Agenda Setting yan di mana Media mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi atau memebentuk opini publik.
Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw (1992) (Nurudin, 2009: 195)  adalah orang yang pertama kali memperkenalkan teori agenda setting ini. Teori ini muncul sekitar tahun 1973 dengan publikasi pertamanya berjudul “ The Agenda Setting Fuction of The Mass Media” Public Opinion Quartely No.37.

Stephen W. Littelejoh (1992) (Nurudin, 2009: 197) mengatakan agenda setting memprediksikan bahwa agenda media adanya unsur sebagai memperngaruhi agenda public yang mana agenda publik  tersebut mempengaruhi kedalam agenda kebijakan.

Kata Kunci: media massa, Pembentuk opini, Figur dan Agenda setting


Pendahuluan
Manusia adalah mahkluk sosial yang di mana tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, manusia selalu mempunyai keinginan berhubungan dengan manusia lainya. Dan manusia juga ingin mengetahui lingkungan disekitarnya, terkadang manusia juga ingin mengetahui apa yang terjadi didalam dirinya. Dalam hidup bermasyarakat keingnintahuan manusia untuk berkomunikasi sangat tinggi, dan orang yang akan berkomunikasi dengan manusia lain bisa membuat lebih akrab dan lebih saling mengenal sehingga membuat semakin nyaman.
            Menurut Dr. Everett Kleinjan dari East West Center Hawai (Cangara, 2006: 1) komunikasi merupakan bagian kekal dari kehidupan manusia seperti halnya nafas, sepanjang manusia ingin hidup maka ia perlu berkomunikasi. Semakin majunya Era globalisasi saat ini membuat perkembangan didunia Komunikasi semakin tinggi seperti halnya kemunculan Media Massa. Menurut Cangara ( 2006:122) media massa adalah alat yang di gunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kapada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperi surat kabar, film, radio, dan televisi.
            Setiap hari perkembangan Media massa mengalami peningkatan salah satunya yang sangat terlihat yaitu perusahaan pers baik yang lokal atau perusahaan besar tatapi membuka cabang diseluruh nusantara, semakin banyaknya perusahaan pers itu sendiri membuat informasi yang semakin hari semakin tidak bisa kita bendung lagi. Kita bisa memilih dan memilah berita mana yang sesuai dengan kebutuhan kita baik pemberitaan yang berlebihan dimedia terkadang bisa menyalah artikan presepsi publik. Diantaranya yaitu ada sebuah berita tentang seorang publik figur yang terkenal namun ia (yang di beritakan) belum tentu salah dan baru diberitakan negatif oleh media, tetapi presepsi masyarakat sudah menghakimi bahwa ia (yang di beritakan) itu sudah tentu salah. Hal ini yang terjadi didalam Negara kita banyak munculnya kasus-kasus yang baru ini membuat khalayak (masyarakat) terbawa alur pemberitaan itu, sehingga sering kali publik memeberikan opini sebelum melihat kejadiaan yang sesungguhnya yang sebenarnya terjadi, namun masyarakat sudah memfonis bahwa ia (yang di beritakan) sudah salah dan harus dihukum  padahal belum tentu yang diberitakan bersalah.
Dalam hal ini penulis ingin merumuskan sebenarnya apa kekuatan media sehingga bisa membuat presepsi orang lain bisa memutuskan pendapat dengan cepat tanpa harus menunggu proses hukum ?

Pembahasan
Agenda Setting Theory
Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw (1992) (Nurudin, 2009: 195)  adalah orang yang pertama kali memperkenalkan teori agenda setting ini. Teori ini muncul sekitar tahun 1973 dengan publikasi pertamanya berjudul “ The Agenda Setting Fuction of The Mass Media” Public Opinion Quartely No.37.
Secara singkat teori penyusunan agenda ini mengatakan media (Khususnya media berita) tidak selalu berhasil memberitahu apa yang kita fikir, tetapi media tersebut benar-benar berhasil memberitahu kita berfikir tentang apa. Teori ini media mempunyai kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tertentu. Agenda media juga bisa sengaja di munculkan, akibatnya agenda yang di lakukan media massa ini akan menjadi agenda pembicaraan masyarakat.
Mengutip pendapat Chaffed dan Berger (1997) ( Nurudin, 2009 : 197) ada beberapa catatan yang perlu di kemukakan untuk memperjalas teori ini.
1.      Teori itu mempunyai kekuatan memperjalas untuk menerangkan mengapa orang sama-sama mengangap penting suatu isu.
2.      Teori itu mempunyai kekuatan memprediksikan sebab memprediksi bahwa jika orang-orang mengekpos pada satu media yang sam, mereka akan merasa isu yang sama tersebut penting
3.      Teori itu dapat di buktikan salah jika orang-orang tidak mengekpos medi yang sama maka mereka tidak akan mempunyai kesamaan bahwa isu media penting
Sementara itu Stephen W. Littelejoh (1992) (Nurudin, 2009: 197) mengatakan agenda setting memprediksikan bahwa agenda media adanya unsur sebagai memperngaruhi agenda public yang mana agenda publik  tersebut mempengaruhi kedalam agenda kebijakan.
Untuk lebih memperjelas tiga agenda (agenda media, agenda khalayak, dan agenda kebijakan) dalam teori agenda setting ini, ada beberapa dimensi yang berkaitan seperti yang dikemukan oleh Mannheim (Severin dan Tankard Jr,1992) sebagai berikut:
1)      Agenda media terdiri dari dimensi-dimensi berikut:
a)      Visibility (visibilitas), yakni jumlah dan tingkat menonjolnya berita.
b)      Audience salience (tingkat menonjol bagi khalyak), yakni relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak.
c)      Valence (valiensi), yakni menyenangkan atau tidak menyenangkan cara pemberitaan bagi suatu peristiwa.
2)         Agenda Khalayak, terdiri dari dimensi-dimensi berikut:
a)      Familiarity (keakraban), yakni derajat kesadaran khalayak akan topic tertentu.
b)      Personal Salience (penonjolan pribadi), yakni relevansi kepentingan individu dengan cirri pribadi.
c)      Favorability (kesenangan), yakni pertimbangan senang atau tidak senang akan topik berita.
3)      Agenda kebijakan terdiri dari dimensi-dimensi berikut:
a)      Support (dukungan), yakni kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita tertentu.
b)      Likelihood of action (kemungkinan kegiatan), yakni kemungkinan pemerintah melaksakan apa yang diibaratkan.
c)      Freedom of action (kebebasan bertindak), yakni nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintah.
 Dari teori di atas maka penulis ingin membahas sebuah fenomena komunikasi yaitu yang hampir sama dengan kajian teori di atas yakni Pemberitaan tentang Angelina Sondakh di media massa karena kasus dugaan Korupsi tentang wisma Atlet. Seperti teori Agenda setting yakni media massa memepunyai pengaruh yang kuat dalam menyebarkan berita seperti teori di atas, dengan cara Visibility (visibilitas), yakni jumlah dan tingkat menonjolnya berita, dimana dalam pemberitaan media Kasus Anggelina sondakh yang dulunya seorang artis atau putri Indonesia di tahun 2001, mengawali karir politik di Partai Demokrat kemudian terpilih sebagi anggota DPR 2009-2014, dan pada tahun 2012 Angelina Sondakh di beritakan menjadi tersangka kasus suap wisma atlet SEA Games yang melibatkan sejumlah politikus Indonesia lainya, sebelum ditetapkan sebagai tersangka pemberitaan yang sebelumnya mengangkat tema dugaan ini telah membuat presepsi masyarakat menemukan jawaban bahwa Angelina Sondakh telah salah, berita tersebut di ulang-ulang terus di siarkan di semua media massa.
            Padahal di saat Media memeberitakan hal itu pengadilan belum menemukan letak kesalahan didiri Angelina Sondakh namun masyarakat sudah menentukan bahwa ia(Angelina Sondakh) korupsi dan salah hal ini yang akan menjadi bahasan betapa hebatnya media massa ini sebagai pembentuk opini public dan mengagendakan berita ini menjadi berita yang di agendakan pula oleh public untuk di bicarakan, seperti contoh pemberitaan Angelina Sondakh pada 20 April 2012, berita ini sudah di baca 7798 dengan Judul Putusan Nazarudin Pintu Masuk Usut Kasus Angelina. Berita itu di terbitkan di Koran Kompas.com di alamat kompas.com dengan alamat sebangai berikut:
            Didalam pemberitaan ini KPK telah menemukan Angelina Sondakh mengikuti pertemuan-pertemuan diluar forum bersama Mentri Pemuda Dan Olahraga Andi Mallarangeng dan Ketua Komisi X DPR Mahyuddin beserta Nazarudin.berita ini sudah jelas sekali bahwa media massa hanya memberitakan hasil putusan atau hasil ahkir yang di dalam persidangan, bukanya penulis membela kasus ini tapi disini penulis ingin membahas kasus tersebut dengan Kajian teori diatas bahwa media menemukan hal yang unik untuk di agendakan kepada public tentang seorang Angelina Sondakh yang dulu dikenal sebagi putri Indonesia sekarang dikenal sebagai koruptor perempuan di Indonesia, lalau apa hubunganya dengan Media.
            Yaitu media telah gencar sekali memberitakan kasus tersebut tidak hanya di media elektronik melainkan juga media cetak, sehingga pembaca yang tidak mengetahui berita itu di media elektronik dapat membaca dimedia cetak, begitu gencarnya pemberitaan tentang kasus Angelina Sondakh maka masyarakat (Khalayak) pun semakin tahu semua sehingga bisa menimbulkan sebuah opini publik yang bisa menyebabkan seseorang dinyatakan bersalah terhadap kasus yang melilitnya padahal pengadilan pusat sendiri belum bisa mengatakan bahwa Angelina Sondakh terbukti bersalah, dampak luarbiasa sekali bagi media yang bisa mempengruhi presepsi masyarakat.
            Ketika masyarakat sudah memutuskan jika seseorang bersalah maka hasilnya adalah fonis walaupun pengadilan belum memutuskan perkara ia(Angelina Sondakh) bersalah namun jika Angelina Sondakh melakukan konfrensi pres maka masyarakat sudah tidak percaya karena citra yang di bangun selama ini telah hancur, begitu hebatnya media membuat semua bisa dipengaruhi secara langsung.
            Hal serupa tidak jauh soal Gubernur DKI  Joko Widodo, jika kasusnya Angelina Sondakh membuat ia di benci masyarakat akaibat pemberitaan media dan masyarakat memutusakan ia bersalah, berbeda halnya dengan Mantan Walikota Solo ini, ia sengaja merangkul media saat berkampanye gunanya ingin memberikan atau membantu meneruskan program-program yang akan ia kerjakan jika ia terpilih, sama halnya dengan berita Angelina Sondakh,berita visi, misi Jokowi ini juga gencar di beritakan sama halnya seperti berita Angelina Sondakh namun yang akan kami bahas disini bukan kasus korupsi melainkan media massa ini berperan penting sekali degan peresepsi orang, dengan media sebelumnya seseorang yang belum kenal jokowi menjadi kenal, dengan media yang memutar keberhasilan Jokowi membangun solo dan di putar di beritakan media massa kini masyarakat DKI juga percaya Alhasil di putaran Ke- Dua jokowi berhasil memenangi pemilihan Gubernur DKI.
            Sementara itu Stephen W. Littelejoh (1992) (Nurudin, 2009: 197) mengatakan agenda setting memprediksikan bahwa agenda media adanya unsur sebagai memperngaruhi agenda public yang mana agenda publik  tersebut mempengaruhi kedalam agenda kebijakan. Pendapat ini hampir sama dengan kasus jokowi dan Anggi, jika di lihat di kasus Jokowi, media menemukan baru yakni seorang calon gubernur yang terbuka dengan pers dan dekat dengan pers sehingga fisi misinya pun mudah di pahami oleh masyarakat Jakarta, kemudian media menyebarkan berita itu kepada masyarakat, lalu masyarakat pun terbentuk opininya dan memiliki pendapat bahwa Jokowi mempunyai fisi dan misi yang hampir mirip dengan yang mereka suka jadi tentu saja yang melihat berita tersebut akan memilih jokowi di saat pemilihan.
Kasus jokowi juga terbukti bahwa media massa adalah pembentuk opini masyarakat, kenapa karena kebanyakan warga DKI belum mengenal Jokowi dan pemilih Jokowi adalah orang yang pendidikanya menengah keatas kenapa? Karena kebanyakan kalangan menengah ke atas itu mengkonsumsi berita secara berlebihan, padahal di satu sisi media memebentuk opini publik sehingga kapasitas orang yang berlebihan mengkonsumsi berita berlebihan akan memebaca berita Jokowi, jika sudah membaca berita jowowi akan terkesima oleh yang di tulis media, kenapa terkesima karena pemberitaan di media massa menjelang pilkada DKI berita yang berhubungan dengan Jokowi adalah berita positif dan orang yang terpancing akan terkagum-kagum seolah-oleh apa yang di lakukan jokowi adalah selalau benar.
Kemenangan Jokowi ini 50% kemenagan Media menurut penulis kenapa karena hampir stasiun swasta di Jakarta menjenlang PILGUB DKI semua memebrtitakan Jokowi, dan kesuksesan Jokowi, apa lagi di tambah jika saat di solo jokowi tidak pernah mengambil gaji, sampai hal sedetil itu saja di beritakan di media massa jadi media sebagi pembentuk opini di kasusknya jokowi ini sangat tepat sekali.
Hal yang lain jika boleh dikatakan bahwa ungkapan yang di bicarakan Pak Gubernur (JOKOWI) di depan media ketika menjelang pemilihan Gubernur adalah masalah Interpersonal maksudnya saat menjelang pilkada Jokowi selalu berkata masalah pribadi seakan-akan seorang yang meilahtnya itu mempunya kesamaan dengan dirinya misalnya tidak akan menggusur, menata dan akan berusaha semaksimal mungkin, membuat kartu sehat dan kartu pintar itu semua masalah pribadi, jadi seanakan-akan bahwa audiens atau khalayak itu benar-benar masuk kedalam pikiran nya.
Peran media di sini memberitakan secara terus menerus atau (Visibility) jumlah dan tingkat menonjolkan berita sehingga selalu memebentuk pola dan paradigm baru, seakan-akan media telah mengubah cara pandang seorang sosok jokowi jika terpilih menjadi Gubernur hal apa yang akan di lakukan, tidak dapt di pungkiri bahwa peran media saat Jokowi berkampanya sangat besar dan masyarakat  pun juga telah menentukan sikapnya untuk memilih jokowi daripada foke, padahal jika di lihat sebenarnya Jokowi dan Foke jauh sekali tentang Pengalaman menangani Jakarta dan pengalaman belajarnyapun juga kalah dengan Foke namun karena media membentuk Jokowi seorang yang Superhero dan mamapu menyelesaikan masalah maka di sini medialah yang menang dan mampu memepengaruhi pensapa masyarakat.

Simpulan
Dari kedua kasus tersebut mengenai media massa sebagai pembentuk opini dapat disimpulkan bahwa kasus pertama yang terjadi dialami oleh Angelina Sondakh mengenai kasus dugan korupsi wisma atlet yang terjadi pada SEA Games pada tahun 2012 ini berdampak bahwa citra yang dulunya Angelina Sondakh dikenal sebagai seorang wanita yang memiliki jiwa kepempimpinan dan menyandang sebagai putri Indonesia pada tahun 2001 dikenal dengan sangat anggun sehingga masyarakat berpresepsi bahwa ia dikenal baik.
Sehingga dalam hal ini Angelina Sondakh akibat dari kasus korupsi wisma Atlet SEA Games 2012 dan opini dari presepsi masyarakat yang telah mefonis kepada dirinya yang hingga saat ini citra yang dulunya dikenal baik, ramah dan anggung sekarang berbalik drastis karena dalam hal ini seseorang dapat mampu berubah terhadap dirinya sendiri baik untuk hal positif ataupun negatif yang mana baik untuk menguntungkan dilingkungan sekitar ataupun merugikan dilingkungan sekitar, dan hal ini kasus yang disandang Angelina Sondakh telah merugikan banyak orang baik dilingkungan sekitarnya ataupun yang bersangkutan sehingga masyarakat untuk dapat percaya terhadap dirinya sangatlah susah karena hal ini telah terjadi dan menyebar ke berbagai media baik melalui media cetak, elektronik dan lain-lain mengenai kasusnya sehingga untuk dapat mengubah presepsi yang telah terjadi dimasyarakat membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk dapat mengambalikan citra postif terhadapt dirinya akibat terpaan dari opini presepsi masyarakat yang negatif padanya.
Berbeda halnya dengan kasus kedua yang terjadi oleh Joko Widodo yang merupakan mantan walikota kota Solo yang sekarang telah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, dalam hal ini Joko Widodo yang dikenal dengan sifatnya yang bersahaja terhadap masyarakat baik dulunya menjabat sebagai walikota kota Solo, sehingga warga Solo menganggap bahwa dalam kepeimpinan Joko Widodo untuk membangun kota Solo dan mewujudkan Solo sebagai kota yang aman tentram dan berbudaya sangat berhasil ketika dipimpin oleh masa kepimpinan dulu oleh beliau. sekarang sosok sifat yang bersahaja dan sebagai panutan warga Solo telah memimpin di DKI Jakarta yang kini menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta periode kepemimpinan 5 tahun kedepan. Sebelum menjabat sebagai Gubernur di DKI Jakarta, Joko Widodo dalam masa kampanye dikenal oleh media menemukan baru yakni seorang calon gubernur yang terbuka dengan pers dan dekat dengan pers sehingga fisi misinya pun mudah di pahami oleh masyarakat Jakarta, kemudian media menyebarkan berita itu kepada masyarakat, lalu masyarakat pun terbentuk opininya dan memiliki pendapat bahwa Jokowi mempunyai fisi dan misi yang hampir mirip dengan yang mereka suka jadi tentu saja yang melihat berita tersebut akan memilih Jokowi di saat pemilihan PILGUB DKI Jakarta.
Dari kedua kasus tersebut bahwa media massa dalam pembentuk opini yakni Pemberitaan yang berlebihan dimedia terkadang bisa menyalah artikan presepsi orang lain, diantaranya yaitu ada sebuah berita tentang seorang public figure yang terkenal, namun ia (yang di beritakan) belum tentu salah dan baru diberitakan negatif tetapi presepsi masyarakat sudah menghakimi bahwa ia (yang di beritakan) itu sudah tentu salah, ini yang terjadi didalam Negara kita. Sehingga membuat agenda media mengatakan bahwa (Khususnya media berita) tidak selalu berhasil memberitahu apa yang kita fikir, tetapi media tersebut benar-benar berhasil memberitahu kita berfikir tentang apa. Teori media ini mempunyai kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tertentu. Agenda media juga bisa sengaja di munculkan, akibatnya agenda yang di lakukan media massa ini akan menjadi agenda pembicaraan masyarakat. Sehingga sering bermunculan kasus-kasus yang baru ini membuat khalayak (masyarakat) terbawa alur pemberitaan tersebut terkadang sering kali masyarakat memberikan pendapat cepat sebelum melihat kejadiaan yang sesungguhnya yang sebenarnya terjadi namun masyarakat sudah memfonis bahwa ia (yang di beritakan) sudah salah dan harus dihukum, padahal belum tentu yang di beritakan bersalah.







Daftar Pustaka
Nurudin, 2009. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta.PT RajaGrafindo Persada.

Cangara, Hafied, 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta.. PT RajaGrafindo Persad.







Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Creating Website

1 komentar:

karina beauty mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. TRI WAHYU SUSILO - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger